Puisi Cinta Virus Corona
Sabtu, 21 Maret 2020
Tulis Komentar
Corona Virus
By : Heer Bahari
Menjauhlah ...
Karena orang tahu bahwa kematian merupakan duri
Seketika,
kamu terbang lalu hinggap sesuka hati
Maka insan-insan tertusuk perlahan
Semua mulut membunyikan terompet peringatan
Pergilah
Jangan kau renggut pahala mereka
Yang telah tertimba dari sumur licin berlumut
Hidup akan semakin kalut
Perintah ini adalah gendang
Terbuat dari kulit manusia
Yang terkelupas waktu kedatanganmu
Semua makhluk hingga dikutubpun akan berteriak keras, memecah suara kedamaian, hening kemudian punah
Izra'il akan menyapamu dengan lantang
Ia menyamar sebagai angin neraka buatmu
Kamu tak kan bisa berlari lagi
Sebab ia akan memaksa tubuh mungilmu musnah
Saatnya buatmu bergendang, sambil mendendangkan lagu kesedihan, sinyal untuk kawan-kawan sepermainanmu. Pukullah gendang itu
Agar kiamat berangsur melahap dunia ini
Sembari itu, Isrofilpun akan berbahagia senang
Meniupkan seruling andalannya
Mengelupas kehancuran semesta
Kemudian ia menggiring manusia berkumpul di mahsyar
Merangkak, mengingsut bahkan berlari
Mereka telah disunting dengan kulit pahala atau berbusana dosa
Kau datang, marahku meriang, api dihatiku menciptakan kemarau. Dipunggung ini, kurasa kau membakar diri, tak kuat daya, menahan emosi. Harusnya aku tak seberingas ini.
O corona virus,
jangan tanam namaku di lidahmu, sebab layu hasratku takkan mati disitu
Taiba, 18 Maret 2020
By : Heer Bahari
Menjauhlah ...
Karena orang tahu bahwa kematian merupakan duri
Seketika,
kamu terbang lalu hinggap sesuka hati
Maka insan-insan tertusuk perlahan
Semua mulut membunyikan terompet peringatan
Pergilah
Jangan kau renggut pahala mereka
Yang telah tertimba dari sumur licin berlumut
Hidup akan semakin kalut
Perintah ini adalah gendang
Terbuat dari kulit manusia
Yang terkelupas waktu kedatanganmu
Semua makhluk hingga dikutubpun akan berteriak keras, memecah suara kedamaian, hening kemudian punah
Izra'il akan menyapamu dengan lantang
Ia menyamar sebagai angin neraka buatmu
Kamu tak kan bisa berlari lagi
Sebab ia akan memaksa tubuh mungilmu musnah
Saatnya buatmu bergendang, sambil mendendangkan lagu kesedihan, sinyal untuk kawan-kawan sepermainanmu. Pukullah gendang itu
Agar kiamat berangsur melahap dunia ini
Sembari itu, Isrofilpun akan berbahagia senang
Meniupkan seruling andalannya
Mengelupas kehancuran semesta
Kemudian ia menggiring manusia berkumpul di mahsyar
Merangkak, mengingsut bahkan berlari
Mereka telah disunting dengan kulit pahala atau berbusana dosa
Kau datang, marahku meriang, api dihatiku menciptakan kemarau. Dipunggung ini, kurasa kau membakar diri, tak kuat daya, menahan emosi. Harusnya aku tak seberingas ini.
O corona virus,
jangan tanam namaku di lidahmu, sebab layu hasratku takkan mati disitu
Taiba, 18 Maret 2020

Belum ada Komentar untuk "Puisi Cinta Virus Corona"
Posting Komentar