Sejarah Kampar
Jumat, 10 April 2020
Tulis Komentar
Kampar : Histori, Penamaan, dan Keberadaannya
Oleh : Khairul Fajri, S.Pd
Abstrak
“Kampar tua wilayah dan namanya, namun muda adatnya
Kampar secara geografis menjadi perebutan kerajaan-kerajan terdahulu, dan erat kaitannya dengan Malaysia.
Kampar adalah salah satu Kabupaten tertua di Indonesia. Penduduk aslinya merupakan Proto-Malaya (Melayu Tua) yang daerahnya secara geografis termasuk salah satu Semi Mytichal polities dengan nama wilayah Kandis pada tahun 100 M. Seiring waktu, wilayah tersebut menjadi berubah menjadi Tupo (250 M), Koying (300 M), Kembali 600 M yang kemudian berganti nama menjadi daerah Malayu yang kemudian menjadi daerah kekuasaan Srivijaya pada tahun 700 M Beriringan dengan lahirnya sebuah Kerajaan di daerah tengah dan selatan Vietnam sekarang yang disebut dengan Kerajaan Champa oleh Lin-yi. Hingga Kampar ini menjadi daerah kekuasaan Dhamasraya (1100 M) yang wilayah kekuasaannya sampai ke Sumatera bagian Barat dimana sebelumnya terpisah secara geografis dan historis. Lalu berubah menjadi wilayah Kunto Kampar (1150 M) yang mempunyai keterkaitan dengan kerajaan Aceh Darussalam ditandai dengan Stempel Palito di Kerajaan Kuntu Darussalam dan Kerajaan Barus Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Daerah Kuntu Kampar kembali menjadi wilayah Kekuasaan Dharmasraya pada tahun 1250 M. Kemudian Penamaan terhadap wilayah Kampar kembali ada pada tahun 1300 M dan termasuk wilayah jauh kekuasaan Brunei Kuno. Brunei Kuno ini telah ada sejak tahun 1000 M. Lalu pada tahun 1350 M, nama Kampar masih ada, namun wilayah yang semulanya luas sudah dibagi menjadi 4 bagian karena daerah ini berada dalam penaklukan kekuasaan Kerajaan Majapahit (1350 M) yaitu: Kampar itu sendiri, Rokan, Kuansing dan Siak. Wilayah di pulau Sumatera yang lainnya yang ditaklukan oleh Majapahit adalah daerah pesisir timur laut Sumatera Utara hingga sampai di daerah pasai (propinsi Aceh).
Seiring wilayah Kampar ini terus menerus ditaklukan oleh beberapa kerajaan, muncullah Kerajaan baru, yaitu Pagarayung dari Baso, Sumatera Barat pada tahun 1350 M yang terus begerilya mengembangkan adat matrilinealisme yang lahir dari doktrin Bundo Kanduang. Jika diurutkan dalam peta sekarang, Daerah kekuasaan Kerajaan Pagaruyuang ini mulai dari Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera selatan, hingga sampai ke Lampung. Tetapi pada tahun 1400 M, wilayah kerajaan ini kembali menyusut hanya sebatas propinsi Sumatera Barat sekarang. Karena daerah lainnya sudah ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit, hingga membagi daerah tersebut dengan nama Dharmasraya dan Palembang.
Lalu nama Kampar hilang karena daerah dan nama Kampar yang sudah berates-ratus tahun itu berada dalam kekuasaan Pagaruyung yang kembali begerilya pada tahun (1450 M) dan kembali direbut pada tahun 1500 M oleh Kerajaan Malacca yang raja pertamanya adalah Raja terakhir Kerajaan Sriwijaya yang bersembunyi di Kampar (Muara Takus) lalu lari menuju Malaysia karena terdesak oleh kerajaan Majapahit. Ia bernama Parameswara, masuk Islam mendirikan kerajaan baru bernama kerajaan Malacca dan berganti nama menjadi Muhammad Iskandar Syah setelah menikahi putrid dari kerajaan Samudra Pasai di Aceh.
Kehadiran Kerajaan Malacca ini membuat nama Kampar muncul kembali pada tahun 1500 M tersebut selama kerajaan Malacca tersebut ada hingga nama Kampar kembali dihilangkan setelah kerajaan Pagaruyung kembali menguasainya serta seiring runtuhnya kerajaan Malacca pada tahun 1600-an. pada tahun tersebut didukung oleh masuknya Portugis, Inggris, kemudian Belanda.
Detik-detik nama Kampar kembali eksis, adalah ketika Belanda masuk ke sebagian kecil daerah Kampar pada tahun 1750. Lalu kerajaan Siak menguasai daerah Kampar dan bersekutu dengan Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, Pada tahun 1900 M Belanda menguasai dan menjajah pulau Sumatera kecuali Sebagian tanah Aceh.
Hingga pada tahun 1945, tepatnya munculnya patriotisme dan nasionalime Putra-Putri Bangsa Indonesia mendeklarasikan hari kemerdekaannya. Dan 1950 berdirinya Darul Islam di Sebagian Barat Pulau Jawa. Hingga sampai sekarang nama Kampar tetap eksis keberadaannya sebagai salah satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Kampar (1949 M)
Kampar tua wilayah dan namanya, namun muda adatnya. Kampar adalah nama dan wilayah yang tua sejak 1100 M yang dahulunya bernama Kandis pada tahun 100 M. Pada dasarnya, Kampar bukanlah minang, apalagi Minanga Hanyut. Kampar adalah Minanga Hilang karena nama Kampar tiba-tiba hilang pada masa kerajaan pagaruyuang. Penduduk Asli Kampar adalah Proto-Malaya (Melayu Tua), sedangkan Minanga adalah Deutro-Malaya (Melayu Muda). Oleh Sebab itu, Penduduk asli Kampar tidak mungkin berasal dari pagaruyuang, namun adat Kampar turun dari Pagaruyuang karena pengaruh adat matrilinelisme dari Bundo Kanduang pada tahun 1350 M.
Didunkung lagi secara geografis bahwa peradaban Manusia Kuno adalah dari sungai ke sungai. bukan bukit ke bukit. Seperti halnya asal peradaban mesir di pinggiran sungai Nil, Amerika di pinggiran sungai Amazon, dan tentunya Kampar di pinggiran sungai Kampar. Dan Kita juga telah tahu, bahwa Malaka adalah salah satu Jalur Perdagangan Internasional. Perdagangan tersebut terakses lewat jalur transportasi air.
Daftar Pustaka
Nugroho Notosusanto, 1975. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka
A Samad Ahmad, 2008. Sulalatus Salatin. Malaysia:Dewan Bahasa dan Pustaka
www.pn-bangkinang.go.id
https://youtu.be/bAIlKNk_qHI
https://id.m.wikipedia.org
Keputusan Gubernur Militer Sumatera Tengah Nomor : 10/GM/STE/49 tanggal 09 November 1949
Oleh : Khairul Fajri, S.Pd
Abstrak
“Kampar tua wilayah dan namanya, namun muda adatnya
Kampar secara geografis menjadi perebutan kerajaan-kerajan terdahulu, dan erat kaitannya dengan Malaysia.
Kampar adalah salah satu Kabupaten tertua di Indonesia. Penduduk aslinya merupakan Proto-Malaya (Melayu Tua) yang daerahnya secara geografis termasuk salah satu Semi Mytichal polities dengan nama wilayah Kandis pada tahun 100 M. Seiring waktu, wilayah tersebut menjadi berubah menjadi Tupo (250 M), Koying (300 M), Kembali 600 M yang kemudian berganti nama menjadi daerah Malayu yang kemudian menjadi daerah kekuasaan Srivijaya pada tahun 700 M Beriringan dengan lahirnya sebuah Kerajaan di daerah tengah dan selatan Vietnam sekarang yang disebut dengan Kerajaan Champa oleh Lin-yi. Hingga Kampar ini menjadi daerah kekuasaan Dhamasraya (1100 M) yang wilayah kekuasaannya sampai ke Sumatera bagian Barat dimana sebelumnya terpisah secara geografis dan historis. Lalu berubah menjadi wilayah Kunto Kampar (1150 M) yang mempunyai keterkaitan dengan kerajaan Aceh Darussalam ditandai dengan Stempel Palito di Kerajaan Kuntu Darussalam dan Kerajaan Barus Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Daerah Kuntu Kampar kembali menjadi wilayah Kekuasaan Dharmasraya pada tahun 1250 M. Kemudian Penamaan terhadap wilayah Kampar kembali ada pada tahun 1300 M dan termasuk wilayah jauh kekuasaan Brunei Kuno. Brunei Kuno ini telah ada sejak tahun 1000 M. Lalu pada tahun 1350 M, nama Kampar masih ada, namun wilayah yang semulanya luas sudah dibagi menjadi 4 bagian karena daerah ini berada dalam penaklukan kekuasaan Kerajaan Majapahit (1350 M) yaitu: Kampar itu sendiri, Rokan, Kuansing dan Siak. Wilayah di pulau Sumatera yang lainnya yang ditaklukan oleh Majapahit adalah daerah pesisir timur laut Sumatera Utara hingga sampai di daerah pasai (propinsi Aceh).
Seiring wilayah Kampar ini terus menerus ditaklukan oleh beberapa kerajaan, muncullah Kerajaan baru, yaitu Pagarayung dari Baso, Sumatera Barat pada tahun 1350 M yang terus begerilya mengembangkan adat matrilinealisme yang lahir dari doktrin Bundo Kanduang. Jika diurutkan dalam peta sekarang, Daerah kekuasaan Kerajaan Pagaruyuang ini mulai dari Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera selatan, hingga sampai ke Lampung. Tetapi pada tahun 1400 M, wilayah kerajaan ini kembali menyusut hanya sebatas propinsi Sumatera Barat sekarang. Karena daerah lainnya sudah ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit, hingga membagi daerah tersebut dengan nama Dharmasraya dan Palembang.
Lalu nama Kampar hilang karena daerah dan nama Kampar yang sudah berates-ratus tahun itu berada dalam kekuasaan Pagaruyung yang kembali begerilya pada tahun (1450 M) dan kembali direbut pada tahun 1500 M oleh Kerajaan Malacca yang raja pertamanya adalah Raja terakhir Kerajaan Sriwijaya yang bersembunyi di Kampar (Muara Takus) lalu lari menuju Malaysia karena terdesak oleh kerajaan Majapahit. Ia bernama Parameswara, masuk Islam mendirikan kerajaan baru bernama kerajaan Malacca dan berganti nama menjadi Muhammad Iskandar Syah setelah menikahi putrid dari kerajaan Samudra Pasai di Aceh.
Kehadiran Kerajaan Malacca ini membuat nama Kampar muncul kembali pada tahun 1500 M tersebut selama kerajaan Malacca tersebut ada hingga nama Kampar kembali dihilangkan setelah kerajaan Pagaruyung kembali menguasainya serta seiring runtuhnya kerajaan Malacca pada tahun 1600-an. pada tahun tersebut didukung oleh masuknya Portugis, Inggris, kemudian Belanda.
Detik-detik nama Kampar kembali eksis, adalah ketika Belanda masuk ke sebagian kecil daerah Kampar pada tahun 1750. Lalu kerajaan Siak menguasai daerah Kampar dan bersekutu dengan Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, Pada tahun 1900 M Belanda menguasai dan menjajah pulau Sumatera kecuali Sebagian tanah Aceh.
Hingga pada tahun 1945, tepatnya munculnya patriotisme dan nasionalime Putra-Putri Bangsa Indonesia mendeklarasikan hari kemerdekaannya. Dan 1950 berdirinya Darul Islam di Sebagian Barat Pulau Jawa. Hingga sampai sekarang nama Kampar tetap eksis keberadaannya sebagai salah satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Kampar (1949 M)
Kampar tua wilayah dan namanya, namun muda adatnya. Kampar adalah nama dan wilayah yang tua sejak 1100 M yang dahulunya bernama Kandis pada tahun 100 M. Pada dasarnya, Kampar bukanlah minang, apalagi Minanga Hanyut. Kampar adalah Minanga Hilang karena nama Kampar tiba-tiba hilang pada masa kerajaan pagaruyuang. Penduduk Asli Kampar adalah Proto-Malaya (Melayu Tua), sedangkan Minanga adalah Deutro-Malaya (Melayu Muda). Oleh Sebab itu, Penduduk asli Kampar tidak mungkin berasal dari pagaruyuang, namun adat Kampar turun dari Pagaruyuang karena pengaruh adat matrilinelisme dari Bundo Kanduang pada tahun 1350 M.
Didunkung lagi secara geografis bahwa peradaban Manusia Kuno adalah dari sungai ke sungai. bukan bukit ke bukit. Seperti halnya asal peradaban mesir di pinggiran sungai Nil, Amerika di pinggiran sungai Amazon, dan tentunya Kampar di pinggiran sungai Kampar. Dan Kita juga telah tahu, bahwa Malaka adalah salah satu Jalur Perdagangan Internasional. Perdagangan tersebut terakses lewat jalur transportasi air.
Daftar Pustaka
Nugroho Notosusanto, 1975. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka
A Samad Ahmad, 2008. Sulalatus Salatin. Malaysia:Dewan Bahasa dan Pustaka
www.pn-bangkinang.go.id
https://youtu.be/bAIlKNk_qHI
https://id.m.wikipedia.org
Keputusan Gubernur Militer Sumatera Tengah Nomor : 10/GM/STE/49 tanggal 09 November 1949

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Kampar"
Posting Komentar