أَهْلًا وَسَهْلًا في اتِّحَادِ مُدَرِّسِيْ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ فَرْع كَمْبَار 

Sekilas Sejarah Sastra Arab

Sejarah sastra arab (تاريخ الأدب العربي)
sumber: Nurhasanah, S.Ud

Istilah adab digunakan dalam sisi keilmuan memiliki dua makna:
Secara umum, bermakna hasil pikiran secara umum yang tersusun didalam kitab-kitab.
(عام يدل على الإنتاج العقلي عامة مدونا في كتب ), bisa diartikan sastra, berisi tentang syair, kisah-kisah, akhbar, ansab dan lain sebagainya. Contoh kitab-kitab adab yang bermakna sastra, seperti:
أدب الأطفال
 (berisi tentang bagaimana mengajari anak-anak dengan menggunakan sastra seperti mengajar dengan kisah-kisah, atau dengan drama, dan bagaimana metode belajarnya.)
الأدب في صدر الإسلام، الأدب الأماوي، الأدب العباسي
Dan kitab-kitab yang bersangkutan dengan syair, kritikan syair, kisah-kisah. Dan lainnya

Secara khusus, bermakna kalam yang bagus yang terjadi untuk mendapatkan enaknya berbicara.
(وخاص يدل على الكلام الجيد الذي يحدث لمتلقيه لذة فنية)
 bisa diartikan adab, etika, atau sopan santun. Contoh kitab-kitab adab yang bermakna etika atau sopan santun.
الأدب المفرد (ini adalah kitab hadits yang dikumpulkan oleh imam bukhori tentang akhlak seorang muslim, didalam kitab ini juga berisi perkataan sahabat nabi muhammad dan para tabi’in).
أدب الاختلاف في الإسلام
أدب الدنيا والدين

Orang arab  sangat menyukai syair, Sampai-sampai kitab keilmuan diringkas dengan menggunakan syair untuk memudahkan dalam menghafal nya dan memudahkan mereka untuk mempelajarinya, contohnya:  matan alfiyah.

كَلامُنَا لَفْظٌ مُفِيدٌ كَاسْتَقِمْ وَاسْمٌ وفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الكَلِمْ
وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ والقَوْلُ عَمّْ وَكِلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤَمّْ

Sastra arab memiliki beberapa tingakatan masa: jahili, islam, umawiyah, abbasi.
Setiap sastra, kita contohkan saja syair, tidak semuanya menyangkut dengan syariat, dan setiap syair memiliki tujuannya masing-masing sebagai berikut:
المديح (pujian),
الهجاء (celaan)
الرثاء (ratapan),
الاعتذار (alasan)
الغزل (romantis),
الفخر (kemuliaan)

Penyair terkenal pada masa jahily, dan syairnya.

syair pada masa jahiliyah memiliki kedudukan yang sangat tinggi, orang yang bagus suaranya saat bersyair akan dipandang baik oleh masyarakat. Begitu juga dengan penyair yang suka memuji para raja, maka ia akan mendapatkan kedudukan terhormat dan diberikan uang yang banyak, sebaliknya jika syairnya berisi sindiran, maka martabatnya di masyarakat akan turun.
Ibnu rosyiq alquwani mengatakan, pada zaman jahiliiyah, masyarakat setempat mengadakan hari ulang tahun si penyair untuk menghormati beliau karena kehebatannya dalam membuat syair, lalu akan dibuatkan makanan dan dikumpulkan para gadis untuk memainkan kecapi dan berpesta.
Masyarakat jahiliyyah mendirikan pentas di pasar-pasar untuk menyanyikan syair, seperti di pasar ukkaz, dimana para penyair dari berbagai kabilah berlomba menyanyikan syair dihadapan para juri.
Karena saking cintanya mereka terhadap syair, mereka memilih syair yang paling bagus dan meletakkan di dinding ka’bah, kemudian ka’bah didatangi oleh berbagai kabilah dan mereka tawaf di ka’bah, dan juga ada 7 qosidah syair mereka ditulis dengan emas dan diletakkan di kain penutup ka’bah.
Penyair yang terkenal pada masa jahily: amru qois, turfah bin alabd, zahir bin abi salmi, antoroh bin syadad dan lainnya.
Salah satu contoh syair antorh bin syadad, tentang al fakhr (kemuliaan diri)
ماستمتُ أنثى نفسها في موطن ... حتى أوفّي مهرها مولاها (aku tidak berani merayu seorang gadis (untuk berbuat zina) hingga aku berikan mahar kepada walinya).
أغشى فتاة الحيّ عند حليلها ... وإن غزا في الجيش لا أغشاها
 (saya berkunjung kerumah seorang wanita (yang sesuku dengan saya) dalam rangka silaturrahim jika ada mahramnya (ayah atau saudara laki-lakinya), jika mahramnya keluar, maka aku tidak akan mengunjunginya.
أغضّ طرفي ما بدتْ لي جارتي ... حتى يواري جارتي مأواها (aku tundukkan pandanganku ketika tetanggaku (seorang wanita) berlalu dihadapanku, sampai ia masuk kerumahnya (agar tidak terlihat).

syair pada masa islam:
Ketika islam datang, islam tidak meninggikan derajat syair, karena ada yang lebih besar dan lebih dahsyat dari pada itu, yakni alquranul karim. Islam menganggap syair hanyalah kalam yang tersusun yang ada didalamnya pujian atau celaan. Dan hukumnya mubah. Sebagaimana sabda rasulullah saw:
انما الشعر كلام مؤلف، فما وافق الحق منه فهو حسن، وما لم يوافقِ الحق فلا خير فيه.
Syair hanyalah kalam yang tersusun, jika sesuai kebenaran maka itu baik, jika tidak sesuai kebenaran maka tidak ada kebaikan padanya.
Juga rasulullah bersabda:
انما الشعر كلام ومن الكلام خبيث وطيب (syair hanyalah kalam yang ada padanya keburukan dan kebaikan)

Contoh syair pada masa rasulullah saw
Sebuah qasidah syiir ketika rasulullah disambut oleh kaum ansor dimadinah  dengan bahar romal:

طلع البدر علينا .... من ثنيات الوداع
وجب الشكر علينا ... ما دعا لله داع
أيها المبعوث فينا ... جئت بالأمر المُطاع
جئت شرفتِ المدينة ... مرحبا يا خير داع

Telah datang bulan kepada kami ... dari kampung saniyatul wada
Kita wajib bersyukur ... kepada Allah kita berdoa
Hai sang utusan dikalangan kita ...engkau telah datang dengan membawa perintah
Engkau datang, maka kota ini menjadi mulia... selamat datang wahai sebaik-baik penyeru.
Juga ali bin abi thalib r.a juga senang membuat syair, bahkan ia juga ada kitab syair dari kumpulan kitabnya berjudul diwan ali bin abi thalib,  begitu juga ayahnya abi thalib paman nabi muhammad saw, memiliki kitab yang berjudul diwan abi thalib.

Syair pada masa umawiyah dan  pada masa abbasiyah.

Syair pada kedua masa ini sudah menggunakan uslub alquran atau gaya alquran, dan juga banyak juga terpengaruhi oleh islam.

Biografi salah seorang penyair yang mencinta seorang gadis.

Kusair dan azzah

Kusair bin abdurrahman bin aswad bin malih (nama kuniyahnya abu sakhr) dari kabilah khuza’ah. Dia asli orang yaman namun dilahirkan di pinggiran kota baisan terletak antara madinah munawwaroh dan khoibar.
Dia menciintai seorang wanita yang bernama azzah binti humail bin hafs. daud alintoki meyebutkan dalam kitab تزيين الأسواق في أخبار العشاق  : sebab ada rasa cinta antara kusair dan azzah karena kusair adalah seorang pengembala kambing, dan biasa nya para perempuan mengambil air disebuah lembah jauh dari rumah (orang arab dulu jika ingin bertemu dengan kekasih mereka akan bertemu dilembah). Lalu teman-teman azzah menyuruhnya untuk membeli kambing dengan memberikan beberapa dirham padanya, lalu azzah pun menhampiri kusair, ketika kusair melihat azzah pertama kali maka ia langsung jatuh cinta, dan kusair menolak uangnya dan memberikannya seekor kambing dan berkata:”jika nanti kamu kesini aku akan mengambil uang ini” (berharap kusair bisa menemuinya lagi dengan menyuruh membayar esok hari).
Esoknya datang beberapa perempuan datang menemui kusair untuk membayar kambing, dan kusair berkata:”saya hanya butuh azzah menemuiku”, Lalu salah seorang permpuan berkata:”azzah itu tidak punya kelebihan apa-apa maka pilihlah salah satu diantara kami (mereka menceritakan keburukan azzah agara kusair benci)”, namun Kusairpun menolak.
Pada suatu malam suami azzah menyuruhnya untuk membuat api untuk memasak atau mencari minyak samin (mentega), lalu kusair menemuinya dan azzah mengatakan hajatnya, lalu kusairpun menuangkan minyak samin ke bejana azzah sambil mengobrol, saking enak mengobrol mereka tidak merasakan bahwa minyak samin sudah penuh dan tumpah dikaki mereka. Lalu azzahpun pulang menemui suaminya, lalu suaminya marah karena banyaknya minyak samin di bejana sampai-sampai tumpah mengenai baju azzah (sedangkan uang yang dikasih sedikit, dan timbul kecurigaan suaminya). Lalu azzahpun menceritakannya.
 Lalu suaminya marah dan bersumpah akan memukulnya atau ia pergi ke kusair untuk mengutuknya dan mencaci makinya, jika tidak maka suaminya akan mengazabnya. Maka azzahpun menemui kusair dan menceritakan keinginan suaminya, saat itu kusair sedang meruncingkan anak panahnya, lalu kusair menusukkan anak panah tersebut ke tangannya dan keluar darah lalu azzahpun mengusap darah yang keluar dengan bajunya agar suaminya percaya.
Solahuddin assofdi menyebutkan didalam kitab الوافي بالوفيات : Kusair berada di mesir sedangkan azzah berada di madinah munawwaroh, lalu kusair rindu padanya dan bersafar menuju madinah. Kemudian dipertengahan jalan kusair menemui azzah yang sedang menuju ke mesir. mereka berbincang lama, lalu mereka berpisah, azzah menuju mesir dan kusair kembali lagi kemesir. Beberapa lama kemudian azzah wafat dan dikuburkan, lalu datanglah kusair menghampiri kuburannya lalu ia berdiam disitu beberapa saat kemudian pergi sambil bersyair beberapa bait:
اقول ونِضوي واقف عند رسمها ... عليك سلام الله والعين تُسفح
Saya berdiri di samping makamnya ...atasmu kesalamatan dari allah dan airmata pun mengalir.
فهذا فراق الحق لا ان تُزيرَني ... بلادَكِ فتلاءُ الذراعين صيدح
inilah sebenar-benarnya perpisahan, bukan karena karena jarak
وقد كنتُ أبكي من فراقكِ حية... وأنتِ لعمري اليومَ أنأى وأنزح
sungguh aku sedih saat kita berpisah saat engkau hidup...namun hari ini engkau jauh sekali dan meniggalkanku
Syair-syair pilihan dari kusair azzah

Sebelum saya mengenal azzah saya tidak tahu apa itu kesedihan? Apa itu sakit hati?, hingga ia berpaling dariku.
وما كنتُ أَدْري قَبلَ عَزَّةَ مَا البُكَا ؟  ##  وَلَا مُوْجِعَاتِ القَلبِ؟ حَتَّى تَوَلَّتِ
Dia tidak adil, ia membuat saya benci dan tidak suka terhadap semua wanita, ketika saya mencintainya ia berpaling dariku.
وَما أَنصَفَتْ أَما النِساءُ فَبَغَّضَتْ   ##   إِلينا وَأَمَّا بالنَوالِ فَضَنَّتِ


Lau saya berkata kepadanya:” ya azzah, setiap musibah apabila diberikan untuk dipikul pada suatu hari maka akan menjadi ringan jika terjadi”. (maksudnya jika musibah itu datang tiba-tiba maka akan sangat sulit diterima, namun jika musibah itu sudah diberi tahu dahulu maka akan terasa ringan jika terjadi, misal: seorang suami mengatakan kepada istrinya telah dipecat, maka musibah ini berat di terima, namun jika di beritahu bahwa suaminya akan dipecat sebulan lagi, maka akan ringan jika itu terjadi).
يا عز، كل مصيبة ... اذا وُطِّنت يوما لها النفسُ ذلَّتِ
Seolah-olah saya memanggil sebuah batu yang berpaling, batu yang keras  licin jikalau binatang berjalan diatasnya maka akan tergelincir.
كأني أنادي صخرةً حين اعرضتْ... من الصم لو تمشي بها العصمُ زلت
Ia memasuki Areaku (hatiku) yang belum ada orang yang mengisi sebelum dia (azzah) hingga ia mengisinya, dan tempat tinggi (keadaan hati kusair) belum ada yang bisa mendakinya sampai ia mendakinya.
اباحت حمىً لم يرعه الناس قبلها ... وحلتْ تلاعا لم تكن قبل حُلتِ
demi Allah, ketika saya mendekat ia menjauh dengan memutuskan (hubungan) ketika cinta saya bertambah cinta dia semakin sedikit.
ووالله ما قاربتُ الا تباعدتْ ... بصرم ولا أكثرتُ الا أقلّت
Kami beriring naik (menggunakan tali) di udara, ketika kami sampai dan saya tetap (disana)   dan ia jatuh (meninggalkan kusair).
وكنا سلكنا في صعود من الهوى ... فلما توافينا ثبثُّ وزلّت
Dulu kami telah mengikat janji hubungan antara kami, ketika kami telah berjanji lalu saya ikat dengan kuat (janji itu) lalu ia menguraikann (membatalkan).
وكنّا عقدنا عقدة الوصل بيننا ... فلما تواثقنا شددتُ وحلت
Saya, jika ia menghindar (dariku) maka saya akan tetap memujinya (dan menghormatinya)
وإني وإن صدّتْ لمُثْنٍ وصادقٌ
Saya tidak mendoakan azzah untuk binasa (mati/hancur) dan saya tidak mencelanya jika sendalnya tergelincir.
فما أنا بالداعي لَعزة بالردى ... ولا شامتٍ إن نعل عزة زلت
Demi Allah, tidak ada lagi setelah dan sebelumnya rasa cinta, setelah ia menyelasaikan (hubungan).
فوالله ثم الله لا حلّ بعدها .. ولا قبلها من خلةٍ حيث حلت
Tidak ada hari yang melewatiku (aku tidak melewati hari-hari yang besar) seperti hari-harinya (hari-hari cintanya bersama azzah) walapun ada hari-hari lain yang besar (dalam hidupku).
وما مر يوم عليَّ كيومها... وإن عظُمتْ أيام أخرى وجلت
Ia berada ditempat paling tingggi dalam hatiku, tidaklah hatiku melupakannya dan jiwaku tidaklah merasa bosan.
وحلت بأعلى شاهق من فؤاده... فلا القلب يسلاها ولا النفس ملّت
Seperti orang yang menginginkan naungan awan, ketika hendak duduk untuk  istirahat maka ia menghilang.
لكالمرتجي ظِلَّ الغمامة كلما... تبوّأ منها للمقيل اضمحلّت
Saya dan azzah seperti orang yang menginginkan awan gersang, ketika ia melewatinya (negeri/tempat kusair) ia menurunkan hujan (ditempat lain). (orang berharap : kusair) (awan : azzah)
كأني وإياها سحابة ممحلٍ ... رجاها فلما جاوزتْه استهلت

Kisah laila wal majnun

Kisah ini pada abad pertama hijriyah, Majnun itu adalah qois bin maluh. Sedangkan lailah anak paman qois. Mereka sejak kecil bermain bersama, dadn juga sama mengembala ternak. Mereka adalah suku badui.
Ketika beranjak baligh, mereka tidak lagi main bersama, saling menjaga diri dan pandangan. Dan lailah lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah. Namun berbeda dengan qois, semakin dewasa ia mulai menyukai laila, semua hidupnya dan mimpinya hnya terarah pada laila. tidak ada hal yang ia pikirkan, tidak ada hal yang ia inginkan, kecuali hanya terfokus pada satu impian, yakni ingin melihatnya.
Lalu ia membuat syair yang sangat indah mengenang masa kecilnya bersama laila. Dan akhirmya, ia memberanikan diri untuk menemui pamanny yakni ayah laila bermaksud ingin menikahi laila, namun ayah laila menolaknya. Kenapa ditolak? Karena pada zaman dulu tradisi orang arab melarang meerima lamaran dari laki laki yang telah membuat syair pada perempuan yang dilamarnya.     
Akhirnya laila menikah dengan laki-laki kabilah lain yang belum prnah ia temui dan ia lihat sebelumnya. Dan ia pergi ke toif untuk menjauhkan laila dengan qois almjnun. Dan qois ditinggalkan dan ia menjadi gila, kemudian ia pergi tak tentu arah dalam perasaan yang sangat duka dan lelah. Dan akhirnya ia ditemukan tewas oleh musafir di sumur atau lembah tua dipadang pasir, وليلى عذبته بحبها
Sebelum ia mati ia bersyair:
أفكر ما ذنبي اليك واعجب .. ووالله ما ادري علامَ قتلتني
Saya berpikir apa dosaku.. demi Allah saya tidak tahu kenapa kamu membunuhku
وأي أمور فيك يا ليلى أركب ... أأقطع حبل الوصل فالموت دونه
Hal apa yang membuat engkau lari wahai laila? Apakah saya memotong tali hubungan lalu mati?
أم أشرب رنقا منكم ليس يشرب ... أم أهرب حتى لا أرى لي مجاورا
Atau saya meminum   kotor yang belum pernah diminum, atau saya lari sampai saya tidak meliat seorangpun
أم أصنع ماذا أم أبوح فأغلب
Atau apakah saya membuat atau membocorkan rahasia?.

Pada masa abbasiah Syair abu nawas ketika tobat sebelum meninggal dunia dan Syair ini ditemui oleh sahabatnya dikasur tempat ia meninggal dunia. Sebelum syair ini ditemukan imam syafii tidak mau menyolatkannya karena sifat nya ketika masih hidup sangat tidak berakhlak dan melakukan perbuatan maksiat. Namun ketika imam syafii membaca syair ini beliau menangis dan bersedia menyolatkan abu nawas.
يا رب ان عظمت ذنوبي كثرة ... فلقد علمتُ بأن عفوك أعظم
Ya Allah, jika dosaku sangat banyak , maka saya sudah tahu itu namun ampunanmu lebih besar.
ان كان لا يرجوك الا محسن ...فبمن يلوذ ويستجير المجرم
Jika orang baik saja yangbbisa berharap kepadamu, maka dengan siapa orang jahat berharap?
ادعوك رب كما أُمرتُ تضرعا ... فإذا رددت يدي فبمن ذا يرحم
Saya berdoa  padamu ya Allah, sebagaimana aku diperintah merendahkan diri, maka apabila engkau menolak tanganku, maka kepada siapa lagi yang memberi rahmat?
ما لي اليك وسيلة الا الرجا ... وجميل عفوك ثم أني مسلم
Saya tidak punya wasilah (amal) padamu kecuali harapan dan ampunanmu, dan saya seorang muslim.

Belum ada Komentar untuk "Sekilas Sejarah Sastra Arab"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel